Jumat, 06 November 2009

SEJUTA MAKNA CINTA

Indahnya pemandangan ini, pohon-pohon yang hijau, suara gemerecik air, kicau burung- burung. Desa yang jauh dari keramaian kota, polusi udara, demo buruh, gedung bertingkat yang tinggi, dan yang pasti jauh dari kekacauan. Desa yang aman, sepi dan damai. Penduduknya hidup sengan gotong royong dan penuh kekeluargaan.

Di desa ini ada sesosok gadis desa dari keluarga yang tidak kaya alias sederhana. Wajah yang cantik seperti bunga mawar, mata yang bulat, rambut lurus dan panjang ditutupi jilbab. Siapapun laki-laki yang melihatnya pasti tertarik padanya meskipun tanpa bedak dan makeup yang tebal.

"Assalaualaikum........" kata Dista saat bangun tidur, menyapa pagi yang cerah,sejuk dan indah.
"Semoga pagi ini lebih baik dan lebih menyenagkan. Amiiiin" Langsung beranjak dari tempat tidur, merapikan kamar, mandi terus sarapan dan langsung cabut ke tempat kuliah.
Naik bus menuju kampus dengan tenang dan santai. Tidak pernah terpikirkan bebab dalam hidupnya, hari-harinya dia jalani dengan santai saja alias nggak ngoyo gitu loch...

Ditengah-tengah jam kuliah yang kosong perpustakaan menjadi tempat faforitnya menyerap ilmu-ilmu psikologi dan yang lainnya. Setiap satu detik sangat berharga baginya, jadi tidak boleh disia-siakan untuk ngegosip seperti teman-teman yang lain. Karena kebiasaan yang tidak sama dengan teman-temannya dia dikatakan aneh gitu sama teman-temannya. Tapi si cuek ini tetap pede aja dengan pandangan hidupnya. "Hidupku adalah milikku, so... apapun yang akan aku lakukan yaaa aku jalanin aja, gak peduli aku dengan pendapat orang lain ini itu..." katanya pada Sesil, sahabat karibnya.

###

Sepulang dari kampus Dista dan Sesil pulang bareng.
"Kerumahku dulu yuuuk......" ajak Sesil
"Ada apa emnagnya?" tanya Dista
"Kakakku baru datang dari Jogja, biasanya sih, bawa oleh-oleh banyak. Mau gak?"
"Boleh dec, tapi aku gak bisa lama-lama ya"
"Yupz"

Setiba dirumah Sesil, mereka berdua berada di depan pintu, mengetuk pintu, berkali-kali gak ada yang membukakan pintu.
"Kayaknya gak ada orang, aku pulang aja yach, aku mesti bantuin bunda jaga toko" keluh Dista
"Bentar lagi......"
Beberapa detik kemudian ada seseorang yang membukakan pintu. Laki-laki, cukup tinggi, manis, dengan senyum yang menawan, membukakan pintu dengan perlahan dan menyambut Sesil dan Dista.
Pandangan yang tidak biasa. "Subhanallah....."bisik Rian. Kakak Sesil yang bekerja di Telkom Jogja.

Hati Rian bergetar, tak tahu kenapa. Tidak tersengat listrik tidak juga digigit tawon. Aliran darahnya terasa terhenti, pikirannya linglung dan salah tingkah gak karuan.

"Assalamualaikum....." serentak kata Dista dan Sesil.
"Walaikumsalam........" jawab Rian, grogi dan tak taulah kenapa perasaan yang aneh menghantui pikirannya.
"Silakan masuk Dis" kata Sesil

Sesil memperkenalkan kakaknya pada Dista. Perasaan yamg biasa saja buat Dista, tapi Rian gak tau kenapa perasaannya aneh luar biasa. Setelah kenalan dan ngobrol bentar, Dista harus pulang. Seperti yang dijanjikan Sesil, dia dikasih Bapia Patok oleh-oleh dari kakaknya. Lalu beranjak pulang.

#####


Semenjak perpisahannya dengan wanita yang anggun dan mengganggu pikirannya, Rian terus kepikiran Dista. Rasa yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Setelah memikirkan Dista terus menerus, Rian tiba-tiba berkata " Astagfirullahhaladzim" berkali-kali dan berulang-ulang kata-kata yang sama.
"Apakah ini Cinta? Astagfirullahhaladzim. Aku tidak boleh mencintainya. Aku tidak mungkin menyakiti hati Safira. Aku juga punya adik cewek. Hukum karma berlaku, Allah Maha Tahu. Maafkan aku ya Allah" katanya dalam hati.

Safira adalah teman dekat Rian, mereka tidak pacaran, tapi hanya ta'aruf. Rian hanya bertemu Safira 3 kali. Tapi Rian pernah bilang suka dengan Safira dan Safira sebenarnya sangat menyukai Rian. Dia tidak tega menyakiti hati Safira.

Tiap hari dan tiap waktu kepala Rian terus terusik dengan Dista. Kenapa dia tidak bisa melepaskan diri dari jeratan pikiran tentang Dista.

Dengan berat hati dia memberanikan diri untuk ketemu Dista.

#########

Di malam yang dingin, bulan bersinar begitu terang, bulan dan bintang. Safira di depan rumah menikmati pemandangan malam yang indah dan cerah. Perasaan yang berubah secara tiba-tiba dan baru ia sadari. Tersirat dalam benaknya lelaki yang dia temui di rumah sahabatnya. Baru saja kenal dalam waktu yang cukup singkat, tapi dia ngerasa udah mengenalnya sejak lama, rasa yang berbeda dan tidak biasanya. Sejak pertemuan itu, semangatnya melonjak, menggebu-gebu, rasa bahagia yang luar biasa dan timbul perasaan aneh yang tidak tahu dari mana datangnya, yaitu rasa rindu, kangen dan entahlah apa?

"Rian.........??????? kenapa semua yang ada di dalam benakku tentang dia? Masih teringat dengan jelas dan tidak bisa aku lupakan" keluh Dista

"Apakah ini cinta?kenapa ada rindu yang membara? tapi aku sama sekali tidak mengenalnya, hanya tau sedikit cerita tentang dia dari Sesil yang selalu membanggakan kakaknya. Membuat hidupku seperti terbalik" katanya dalam hati.

Dista berusaha melupakan sosok lelaki itu denagn beribadah lebih rajin, agar didalam hatinya cuma ada sang pencipta dan tidak ada pikiran tentang Rian. Tapi tetap saja teringat dalam waktu yang luang. Terus berusaha melupakan dengan berbagai cara, tapi hasilnya nol besar.

Inilah cinta......

########## 

Rian menjadi laki-laki yang jantan dan tidak tinggal diam. Melalui Sesil dia ingin bertemu dengan Dista. Dan inilah saat yang ditunggu-tunggu keduanya. Rian sengaja bertamu kerumah Dista dengan adiknya pada hari Minggu pagi. Sesampai di rumah Dista, mereka dipersilakan masuk di ruang tamu dan melakukan perbincangan ringan. Setelah sampai pada waktu yang tepat Rian dengan tuturkatanya yang lembut mengutarakan isi hatinya. Apa yang menjadi beban pikirannya selama ini.

"Dista, sebelumnya aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas kedatanganku ini. Aku bermaksud mengatakan sesuatu yang mengganjal diotakku. Entah apa pendapatmu tentang aku, tapi ini yang aku rasakan. Aku suka sama kamu, orang yang aku cintai. Semua ini berasal dari hatiku yamg terdalam dan bukan karangan atau omong kosong. Mungkin aneh, tapi ini kenyataan" kata Rian.

"Aku tidak tahu harus berbuat apa? Kondisiku sekarang sedang menjalani hubungan ta'aruf dengan perempuan bernama Safira. Perempuan ini menyatakan cintanya padaku, tapi aku tidak mencintainya. Pernah aku bulang untuk mengakhiri hubunganku dengan dia, tapi dia tidak mau. Mungkin kamu punya pendapt untuk menyelesaikan madalahku ini. Aku benar-benar mencintaimu Dista" sambung Rian

Dista hatinya bahagia sekaligus sedih. Apa yang diucapkan Rian tidak pernah terlintas dalam benaknya. Rian mencintainya, tapi dia juga jujur tenyang keadannya sekarang. Bagaimanapun juga, Dista harus mengatakan apa yang sesungguhnya dia rasakan dan pendaptnya tentang hubungan Rian dan Safira.

"Sungguh aku tidak menyangka, kita punya perasaan yang sama. Tapi, jika hububgan kita dilanjutkan akan menyakiti hati seorang muslim. Mungkin akan menyakitkan,dan harus ada yang mengalah" Dista diam sejenak dan seperti tidak sanggup untuk berkata apapun. Lalu ia ambil nafas dalam-dalam dan melanjutkan kalimatnya.

"Safira tidak mau berpisah dengan kakak, berarti dia sangat mencintai kakak. Jika memang Safira gadis yang baik akhlaknya, perempuan yang sholeh sholeha, jangan memutuskan hubungan dengan dia. Menikahlah karena Allah bukan karena nafsu dan keegoisan. Mungkin ini akan menyakitkan buat aku dan juga kakak" kata-kata Safira yang penuh dengan ketulusan.

Sungguh tidak menyagka, Dista akan berkata seperti itu. Dengan hati yang harus ikhlas menerima semuanya. Hati Disata sedih dan tergores tapi harus ikhlas dengan keputusannya. Begitu juga Rian.

#########

Dimalam yang dingin, Dista tidak bisa tidur karena kejadian tadi pagi. Hatinya bimbang, sunyi, sepi. Meneteskan air mata yang membendung secara tiba-tiba danidak dapat dicegah. Malam yanmg sangat cerah menjadi kelam. Melepaskan orang yang dicintainya.

#########

Rian merasakan perasaan yang sama, hatinya gelisah atas keputusan Dista. Tapi Dista memang benar, dia tidak mau menyakiti hati Safira karena Safira adalah wanita sholeha, baik, dan berakhlak mulia. Rian juga tidak mau jika hukum karma berlaku pada adiknya kelak, gara-gara menyakiti hati wanita.

#########

Saat Rian kembali ke Jogja, dia berusaha membuka pintu hatinya buat Safira. Menerima dia apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihan dia. Mencintainya hanya karena Allah semata. Kebahagiaan di dunia hanya sementara, kebahagiaan kekal hanya diakhirat. Cintanya dengan Safira akan tumbuh seiring berjalannya waktu dan kebersamaan mereka.

Beberapa minggu setelah itu, Rian menemui orang tua Safira. Melamarnya untuk dijadikan istrinya.  Sungguh bahagia hati Safira bisa menikah engan orang yang dicintainya.

############

Disisi lain Dista berusaha menghilankan kesedihannya dengan melakukan banyak ibadah dan kegiatan hingga jadwalnya sangat padat sekali hanya untuk melupakan sosok Rian. Dia yakin Tuhan sudah mempersiapkan laki-laki untuknya dan kelak dipertemukan dengan dia suatu saat nanti. Laki-laki yang lebih baik dari Rian. Alhamdulillahirobbilalamin.

#################Finish##################***********##################

2 komentar:

  1. kemajuan yang berarti! tapi, gimana kala penutup cerita diganti "Amin", bgukan Alhamdulillah.
    Sukses!!

    BalasHapus
  2. amin itukan do'a diamini
    alhamdulillah karena Allah selalu tau pa yang terbaik buat hambanya

    BalasHapus